Tampilkan postingan dengan label Hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidayah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Agustus 2017

Hanya Allah Satu-satunya Pemberi Hidayah



Bismillah
Selasa , 16 Dzulqa’dah 1438 H / 8 Agustus 2017 M

Lanjutan ,
Mahalnya Sebuah Hidayah ke 4
Hanya Allah Satu-satunya Pemberi Hidayah

Ketahuilah wahai manusia , wahai pencinta kebenaran wahai para orang tua yang mencintai anaknya karena Allah Aza Waajalla , bahwa hanya Allah yang dapat memberi hidayah kebaikan. Upaya yang kita lakukan sebagai  manusia (atau sebagai orangtua) dalam mewarnai keluarga dan memperbaiki akhlaq anak adalah dalam rangka menjalani kewajiban Allah yang dibebankan kepada kita, ( para orangtua ) Adapun hasil dari upaya tersebut adalah mutlak ditangan Allah Aza Waajalla.
Sebagaimana berfirman -Nya :

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, ( مَنْ يَهْدِ اللَّهُ  )
maka dialah yang mendapat petunjuk ( فَهُوَ الْمُهْتَدِي )
dan barang siapa yang disesatkan Allah, ( وَمَنْ يُضْلِلْ )
maka merekalah aranv-2 yang merugi. ( فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ )
( Qs.AI-A’raf (7) 178 )

TAFSIR NYA :
Allah Aza Wajalla berfirman bahwa barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan barang siapa yang disesatkan oleh-Nya, maka sesungguhnya dia telah merugi, kecewa, dan sesat tanpa dapat dielakkan lagi. Karena sesungguhnya sesuatu yang dikehendaki oleh Allah pasti terjadi, dan sesuatu yang tidak dikehendaki­Nya pasti tidak akan terjadi. Karena itulah di dalam hadis Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘ anhu disebutkan dalam muqadimah Rasululullah shallallahu ‘ alaihi wasallam ,

Sesungguhnya segala puji bagi Allah. ("إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِِ )
Kami memuji, memohon pertolongan, ( نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ  )
memohon hidayah,  ( وَنَسْتَهْدِيهِ )
dan memohon ampun hanya kepada-Nya. ( وَنَسْتَغْفِرُهُ  )
Dan Kami berlindung kepada Allah ( وَنُعُوذُ بِاللَّهِ  )
dari kejahatan hawa nafsu kami  ( مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا )
dan keburukan-2 amal perbuatan kami. ( وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا )
Barang siapa yg diberi petunjuk oleh Allah, ( مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ )
tidak ada yg dapat menyesatkannya ( فَلَا مُضِلَّ لَهُ )
dan barang siapa disesatkan oleh Allah, ( وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ )
tidak ada yg dapat memberikan petunjuk kepadanya ( فَلَا هَادِيَ لَهُ )
Dan saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah semata,
tiada sekutu bagi-Nya. ( وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ  )
Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba
dan Rasul­Nya. ( وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ )
( HR Ahmad , Dalam Tafsir Ibni Katsir )

Dan Ayat Allah Aza Waajalla berfirman
Maka sesungguhnya Allah ( فَإِنَّ اللَّهَ )
menyesatkan siapa yg dikehendaki­-Nya ( يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ )
dan menunjuki siapa yg dikehendaki-Nya. ( وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ )
Maksudnya dengan kekuasaan-Nya, maka terjadilah apa yang dikehendaki-Nya.

maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan
terhadap mereka. ( فَلا تَذْهَبْ نَفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرَاتٍ  )
Maksudnya, janganlah kamu merasa kecewa dengan hal tersebut, karena sesungguhnya Allah Mahabijaksana dalam menentukan takdir-Nya. Sesungguhnya Allah menyesatkan orang yang sesat dan memberi petunjuk orang yang mendapat petunjuk hanyalah karena pengetahuan­Nya yang sempurna dan hujah-Nya yang tiada taranya. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yg mereka perbuat. ( إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَصْنَعُونَ )
(Qs Fathir (35) : 8)

Ayat diatas ditafsirkan dengan hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam
Ibnu Abu Hatim sehubungan dgn makna ayat ini mengatakan, ( قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ عِنْدَ هَذِهِ الْآيَةِ )
telah menceritakan kepada kami ayahku, ( حَدَّثَنَا أَبِي )
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Auf Al-Himsi, ( حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَوْفٍ الحِمْصي )
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, ( حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِير )
dari Al-Auza'i, ( عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ )
dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani atau Rabi'ah, ( عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيباني أَوْ: رَبِيعَةَ )
dari Abdullah ibnu Ad-Dailami ( عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ  )
yg mengatakan bahwa ia datang kepada Abdullah ibnu Amr ( قَالَ: أَتَيْتُ عبد الله بن عمرو )
yg saat itu sedang berada di sebuah kebun di Taif yg dikenal dengan --
nama Al-Waht.  (وهو في حائط بِالطَّائِفِ يُقَالُ لَه ُ: الْوَهْطُ )
Lalu Abdullah ibnu Amr berkata, ( قَالَ )
bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda ( سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ )
Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya dlm kegelapan, ( إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ )
kemudian Dia melemparkan sebagian dri cahaya-Nya kpd mereka,  ( ثُمَّ أَلْقَى عَلَيْهِمْ مِنْ نُورِهِ )
maka barang siapa yg terkena cahaya-Nya pada hari itu, ( فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ نُورِهِ يَوْمَئِذٍ  )
berarti dia mendapat petunjuk. ( فَقَدِ اهْتَدَى )
Dan barang siapa yg luput dari cahaya-Nya berarti ia akan sesat. ( وَمَنْ أَخْطَأَهُ مِنْهُ ضَلَّ )
Karena itulah aku hanya dapat mengatakan,  ( فَلِذَلِكَ أَقُولُ )
Keringlah pena u/ mencatat apa yg diketahui oleh Allah  (جَفَّ الْقَلَمُ عَلَى مَا عَلِمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ )

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan didalam riwayat lain ;
Dari Zaid Abu Aufa yg mengatakan bahwa di suatu hari Rasulullah keluar menemui kami (para sahabat), ( عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  )
lalu beliau bersabda (  فَقَالَ )
Segala puji bagi Allah yang memberi petunjuk  (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي يَهْدِي )
dari kesesatan ( مِنَ الضَّلَالَةِ )
dan menghindarkan kesesatan ( وَيُلْبِسُ الضَّلَالَةَ )
dari orang yang disukai-Nya. ( عَلَى مَنْ أَحَبَّ )
(Hadis ini garib sekali ( kesendirianya ).

Allah Aza Wajalla juga berfirman ;
Dan kalau Kami menghendaki, ( وَلَوْ شِئْنَا )
niscaya Kami akan berikan  ( لآتَيْنَا )
kepada tiap-2 jiwa petunjuk (bagi)nya (  كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا )
(Qs As-Sajdah ( 32 ) : 13)

Ayat diatas tafsirkan dengan Qs Yunus: 99
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, ( وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ )
tentulah beriman semua orang ( لآمَنَ مَنْ )
yg di muka bumi seluruhnya. (   فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا)
Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia ( ٍ وَمَا كَانَ لِنَفْس )
supaya mereka menjadi orang-2 yg beriman semuanya? ( أَنْ تُؤْمِنَ  )
Dan tidak ada seorang pun akan beriman kec dgn  izin Allah ( إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ )
dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-2 yg --
tidak mempergunakan akalnya?    ( وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ )
(Qs Yunus(10) : 99 )

Maksudnya : Hai Nabi Muhammad Shallallahu ‘ alaihi wassalam, niscaya Dia ( Allah ) mengizinkan seluruh penduduk bumi untuk beriman kepada apa yang disampaikan olehmu kepada mereka, lalu me­reka beriman semuanya. Akan tetapi, hanya Allah-lah yang mengetahui hikmah dalam semua apa yang dilakukan-Nya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Semakna dengan ayat lain Allah Aza Wajalla berfirman :
Jikalau Tuhanmu menghendaki, ( وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ )
tentu Dia( Allah ) menjadikan manusia umat yg (1), (لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً )
tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, ( وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ )
kecuali orang-2 yg diberi rahmat oleh Robbmu ( إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ )
dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. ( وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ )
Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan ( وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ  )
sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam ( لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ )
dgn jin dan manusia (yg durhaka) semuanya. ( مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ )
(Qs Hud (11) : 118-119)

Kemudian Al -Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan dengan banyak ayat dibawah ini , Allah Aza Wajalla berfirman :
Maka tidakkah orang-2 yg beriman itu ( أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا )
mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki --
(semua manusia beriman),  ( أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ )
tentu Allah memberi petunjuk kpd  manusia --
semuanya. ( لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا )
(Qs Ar-Ra'd(13): 31)

Maksudnya : manusia dipaksa untuk beriman tidak bisa dan tidak ada hak bagimu melakukan hal itu, dan hal itu bukanlah diserahkan kepadamu melainkan hanya kepada Allah Aza Wajalla ( Tafsir Ibnu Katsir )

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk ( لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ )
tetapi Allah-lah yg memberi petunjuk (memberi taufik) ( وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي )
siapa yang dikehendaki-Nya.  ( مَنْ يَشَاءُ )
(Qs Al-Baqarah: 272)

Boleh jadi kamu (Muhammad) membinasakan dirimu, ( لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ )
karena mereka tidak beriman. ( أَلا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ )
(Qs Asy-Syu'ara (42): 3)

karena sesungguhnya tugasmu ( فَإِنَّمَا عَلَيْكَ )
hanya menyampaikan saja, ( الْبَلاغُ )
sedangkan Kamilah yg menghisab amalan mereka.( وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ )
(Qs Ar-Ra'd (13) : 40)

Maka berilah peringatan,( فَذَكِّرْ)
karena sesungguhnya kamu ( إِنَّمَا أَنْتَ )
hanyalah org yg memberi peringatan, ( مُذَكِّرٌ )
kamu bukanlah org yg berkuasa atas mereka.( لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصيْطِرٍ )
(Qs Al-Gasyiyah( 88):21-22)

KESIMPULAN :
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan bahwa Allah Aza Wajalla Maha Memperbuat segala apa yang dikehendaki-Nya, Yang menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya, Yang menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, disebabkan pengetahuan, hikmah, dan keadilan-Nya.
Maka sudah sepantasnya orang yang beriman  mempergunakan akalnya untuk memikirkan hujah-hujah dan dalil-dalil Allah. Allah Maha Adil dalam melakukan hal tersebut, yaitu dalam memberi petunjuk kepada orang yang ditunjuki-Nya dan menyesatkan orang yang disesatkan-Nya.(Tafsir Ibnu Katsir)

Ibrahnya adalah semakin sadar kita mahalnya sebuah hidayah Allah Aza Waajalla.

Ya Allah berilah Hidayah kepada hati ini untuk selalu patuh mengikuti syariat-Mu.Aamiin
Semoga ada manfaatnya .

Refrensi :
- Buku Tarbiyatul Abna karya Syaikh Mustofa Al Adawi.
- Tafsir Ibnu Katsir
- Ensiklopedi hadits..
- Dll.

Wallahu a’lam
Bersambung ....
Mahalnya Sebuah Hidayah ke 5
Hanya Allah Satu-satunya Pemberi Hidayah

http:// Abuafka.blogspot.com

Jumat, 28 Juli 2017

Mahalnya Sebuah Hidayah ( Ke 2 )

Bismillah

Istiqamah memohon selalu diberi dan dijaga hidayah oleh Allah Aza wajalla adalah konci kesuksesan dunia dan akherat, karena hidayah tidak dijual belikan dan mutlak kehendak-Nya.

Allah Aza Wajalla berfirman
Dan siapa yang disesatkan Allah, ( وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ )
maka tidak seorang pun baginya  (  ُفَمَا لَه )
Seorangpun pemberi petunjuk ( مِنْ هَادٍ  )
Dan barang siapa yg diberi petunjuk oleh Allah (  وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ  )
maka tidak seorang pun baginya (  فَمَا لَهُ  )
yang dapat menyesatkannya.  (   مِنْ مُضِلٍّ   )
Bukankah Allah (  أَلَيْسَ اللَّهُ  )
Adalah Mahaperkasa (  بِعَزِيزٍ  )
lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? ( ذِي انْتِقَامٍ )
(Qs Az-Zumar (39) : 36-37)

Tafsirnya : Allah Aza Wajalla itu adalah Zat Yang Mahaperkasa Yang tidak tertandingi. Maka barang siapa yang menyandarkan dirinya kepada Allah dan berlindung kepada-Nya, maka sesungguhnya Dia Mahaperkasa, tiada yang lebih perkasa, dan tiada pula yang lebih keras pembalasannya terhadap orang-orang yang kafir dan musyrik kepada-Nya serta menentang Rasul-Nya selain Dia. ( Kitab Tafsir Ibnu Katsir )

Sesungguhnya yang membutuhkan hidayah itu manusia sedang Allah Maha Maha kaya dan Terpuji :
Hai manusia, (  يَا أَيُّهَا النَّاسُ  )
kamulah ( أَنْتُمُ )
yang berhajat ( الْفُقَرَاءُ )
kepada Allah.( إِلَى اللَّهِ )
(Qs Fathir (35) : 15)

Maksudnya : semuanya berhajat kepada Allah dalam semua gerakan dan diamnya, sedangkan Allah Aza wajalla tidak memerlukan sesuatu pun dari mereka. Karenanya dalam firman selanjutnya disebutkan:
Dan Allah Dialah ( وَاللَّهُ هُوَ )
Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) ( الْغَنِيُّ
lagi Maha Terpuji. ( الْحَمِيدُ )
(Qs Fathir: 15)

Maksudnya : hanya Dia (Allah ) sematalah yang benar-benar Mahakaya, tiada sekutu bagi-Nya dalam sifat-Nya ini, dan Dia Maha Terpuji dalam semua apa yang diperbuat dan dikatakan-Nya, juga dalam semua apa yang ditakdirkan dan yang disyariatkan-Nya.
( Kitab Tafsir Ibnu Katsir ).

Bahkan Allah berfirman dengan peringatan dan ancaman yang berat,
maka barang siapa yang ingin (beriman) ( فَمَنْ شَاءَ )
hendaklah hendaklah ia beriman ( فَلْيُؤْمِنْ )
dan barang siapa yang ingin (kafir) ( وَمَنْ شَاءَ  )
Maka biarlah ia kafir.( فَلْيَكْفُرْ )

Maksudnya : Kalimat ini bukan Allah merestui kekafirannya namun mengandung ancaman dan peringatan yang keras. Karena itulah dalam firman berikutnya disebutkan:
Sesungguhnya Kami  (  إِنَّا )
telah kami sediakan  ( أَعْتَدْنَا )
bagi orang-orang zalim itu. ( لِلظَّالِمِينَ )

Maksudnya : Kami mengincar mereka. Yang dimaksud dengan orang-orang yang zalim adalah orang-orang yang ingkar kepada Allah, Rasul-Nya, dan Kitab-Nya.
neraka (  نَارًا  )
yang gejolaknya mengepung mereka. ( أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا )
(Qs Al-Kahf (19 ) : 29)

Suradiquha ialah tembok-tembok neraka.

Beruntunglah orang-orang yang diberi oleh Allah hidayah untuk menjaganya hingga akhir hayat dan merugilah orang-orang mengotorinya, karena hidayah itu sangat mahal sedang para Nabipun tak mampu memberikan hidayah abadan.

Wallaahu 'alam
Bersambung ....Ke Mahalnya sebuah hidayah bagian 3

http:// Abuafka.blogspot.com

Selasa, 25 Juli 2017

Mahalnya Sebuah Hidayah

Yang Mana ,
HIDAYAH Atau EMAS SEPENUH BUMI ?

Bismillah
Rabu, 3 Zulkaedah 1438 H /
26 Juli 2017

Kemajuan zaman dan keindahan asesorisnya kadang membuat manusia lupa siapa dirinya,apa tujuan hidupnya, mau dibawa kemana dan apa yang Allah kehendaki atasnya. Karena fitnah dunialah yg telah meninabobokan manusia hingga menjadikan materi sebagai illahnya.

Demi Allah,sungguh sangat disayangkan kebanyakan manusia realitanya lebih memilih kenikmatan dunia (emas sepunuh -- bumi /  emas dua bumi ) daripada hidayah dari Allah .
Walaupun bumi ini dijadikan emas dan lebih dari itu maka tidak sedikitpun sebanding dengan satu sayap nyamuk dan ni'matnya hidayah beriman kepada Allah Aza Wajalla.

Allah Azza wa Jalla berfirman :
Sesungguhnya orang-orang yang kafir ( إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا  )
dan mereka mati ( وَمَاتُوا )
dan mereka tetap dalam kekafirannya ( وَهُمْ كُفَّارٌ )
maka tidaklah akan diterima ( فَلَنْ يُقْبَل )
dari seseorang di antara mereka ( مِنْ أَحَدِهِمْ )
EMAS SEPENUH BUMI, ( مِلْءُ الأرْضِ ذَهَبًا )
WALAUPUN DIA MENEBUS DIRI DENGAN EMAS
(yang sebanyak itu). ( وَلَوِ افْتَدَى بِهِ  )
Bagi mereka itulah ( أُولَئِكَ لَهُمْ  )
siksa yang pedih ( عَذَابٌ أَلِيمٌ  )
dan tidaklah mereka ( sekali-2) ( وَمَا لَهُمْ )
tidak memperoleh penolong. ( مِنْ نَاصِرِينَ )
(Q.S. Ali ‘Imran (3) : 91)

Didalam Tafsir Dijelaskan Maksudnya adalah barang siapa yg mati dalam keadaan kafir, maka tidak akan diterima darinya suatu kebaikan pun untuk selama-lamanya, sekalipun dia telah menginfakkan emas sepenuh bumi yg dipandangnya sebagai sarana sebagai amal taqarrub (mendekatkan diri kepada-Nya).

Sebagaimana sebuah riwayat yg shahih yang pernah ditanyakan kepada Nabi Sallahu - 'alaihi Wasallam tentang hal Abdullah ibnu Jad'an. Dia semasa hidupnya adalah masyur dikalangan orang yg sangat baik (dermawan ) gemar menjamu tamu, memberikan pertolongan kepada orang miskin, dan memberi makan orang kelaparan.Beliau ditanya, Apakah hal itu bermanfaat baginya? Maka Rasulullah Shallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Tidak ( لَا  )
sesungguhnya dia ( إِنَّهُ )
belum pernah mengucapkan ( لَمْ يَقُلْ )
barang sehari pun sepanjang hidupnya, ( يَوْمًا مِنَ الدهر )
Ya Tuhanku, ampunilah bagiku ( ربي اغْفِرْ لِي )
semua kesalahanku ( خَطِيئَتِي )
di hari pembalasan nanti.( يَوْمَ الدِّينِ )

Demikian pula seandainya dia menebus dirinya dengan emas sepenuh bumi, niscaya hal itu tidak akan diterima darinya. Seperti yang dinyatakan di dalam potongan ayat lain, yaitu firman-Nya:
dan tidak akan diterima ( وَلا يُقْبَلُ )
darinya (dari padanya ) ( مِنْها )
suatu tebusan pun ( عَدْلٌ )
dan tidak akan memberi manfaat baginya ( وَلا تَنْفَعُها )
syafaat ( شَفاعَةٌ )
(Qs Al-Baqarah: 123)

Didalam potongan ayat lain ,
Yg pada hari itu tidak ada jual beli ( لَا بَيْعٌ )
didalamnya ( فِيهِ )
dan tiada persahabatan.( وَلا خِلالٌ )
(Qs Ibrahim (14): 31)

Sesungguhnya orang-2 yg kafir, ( إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا )
sekiranya mereka (seandainya)( لَوْ أَنَّ لَهُمْ )
mempunyai apa yang di bumi ini ( مَا فِي الأرْضِ )
seluruhnya ( جَمِيعًا )
dan mempunyai yg sebanyak itu (pula) ( وَمِثْلَهُ مَعَهُ )
untuk menebusi diri mereka dgnya ( لِيَفْتَدُوا بِهِ )
dari siksa (pada)  azab hari kiamat, (  مِنْ عَذَابِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ )
niscaya (tebusan itu) tidaklah  ( مَا )
akan diterima dari mereka, ( تُقُبِّلَ مِنْهُمْ )
dan bagi mereka siksa azab yang pedih.( وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ )
(Qs Al-Maidah (5) : 36)

Pada ayat diatas Allah Azza wa Jalla berfirman dalam (Qs Ali Imran: 91)
walaupun ( meski sekiranya ) ( وَلَوِ  )
dia menebus diri ( افْتَدَى بِهِ )
dengannya emas (sebanyak) itu. (  بِهِ  )
(Qs Ali Imran (3) : 91)

Wawu ( وَ ) di-'ataf-kan kepada jumlah yang pertama. Hal ini menunjukkan bahwa yang kedua adalah bukan yang pertama. Pendapat yang kami kemukakan ini lebih baik daripada pendapat yang mengatakan bahwa huruf wawu ( وَ ) di sini adalah zaidah (tambahan).

PENJELASAN :
Makna ayat ini menyimpulkan bahwa tidak ada sesuatu pun yg dapat menyelamatkan dirinya dari azab Allah, sekalipun dia telah menginfakkan emas sebesar bumi. Walaupun dia berupaya menebus dirinya dari azab Allah dengan emas sebesar bumi yang beratnya sama dengan berat semua gunung-gunung, semua lembah-lembah, semua tanah, pasir, dataran rendah dan hutan belukarnya, serta daratan dan lautannya (niscaya tidak akan diterima). ( Kitab Tafsir Ibnu Katsir )
Dengan kata lain, sekiranya seseorang dari mereka datang pada hari kiamat dengan membawa emas (kekayaan) sepenuh dunia ini dan yang semisalnya untuk menebus dirinya dengan hartanya dan bahkan mengadaikan orang-2 yg tadinya didunia disayanginya yakni ;anak-anaknya ,isteri dan sauradaranya bahkan kaum familinya dari azab Allah yang telah meliputi dirinya dan pasti akan menimpanya, niscaya hal itu tidak diterima darinya, bahkan sudah merupakan suatu kepastian baginya siksa itu dan tiada jalan selamat baginya serta tiada jalan lari dari siksaan Allah sebagaimana firmannya,

Mereka salin memandangi (melihat) ( يُبَصَّرُونَهُمْ )
Pada hari itu, orang yg berdosa ingin ( يَوَدُّ الْمُجْرِمُ )
Sekiranya dia dapat menebus ( لَوْ يَفْتَدِي )
Dari siksa pada hari itu  (مِنْ عَذَابِ يَوْمِئِذٍ )
Dengan anak-2nya ( بِبَنِيهِ .) (١١)
Dan isterinya dan sauradaranya.( وَصَاحِبَتِهِ وَأَخِيهِ ) (١٢)
Dan kaum familinya ( وَفَصِيلَتِهِ )
yang melindunginya (di dunia).( الَّتِي تُؤْوِيهِ ) (١٣)
Dan orang-2 di atas bumi seluruhnya, ( وَمَن فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا )
Kemudian (mengharapkan tebusan)  ( ثُمَّ )
Ia dapat menyelamatkannya (يُنجِيهِ ) (١٤ )
Sama sekali tidak ( كَلَّا )
Sungguh ia (  neraka ) bergejolak ( إِنَّهَا لَظَىٰ ) (١٥ )
(Q.S. Al-Ma’arij ( 70 ): 11-15)

Dan Dalam hadits shahih Disebutkan bahwa telah menceritakan
kepada kami Rauh,( حَدَّثَنَا رَوْح )
Dari Hammad, ( حَدَّثَنَا حَمَّاد )
dari Sabit, ( عَنْ ثَابِتٍ )
Berkata (  عَنْ أَنَسٍ قَالَ )
Bersabda ( قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ )
Didatangkan seorang lelaki dari penduduk surga, (  يُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّة )
lalu dikatakan kepadanya, (  فَيَقُولُ لَهُ )
Hai anak Adam, ( يَا ابْنَ آدَمَ )
bagaimanakah kamu jumpai tempat kedudukanmu? ( كَيْفَ وَجَدْتَ مَنزلَكَ؟ )
Lelaki itu menjawab, ( فَيَقُول )
Wahai Tuhanku, ( أَيْ رَب )
(aku jumpai tempat tinggalku adalah) -
sebaik-baik tempat tinggal. ( خَيْرُ مَنزلٍ )
Allah berfirman, ( ُفَيَقُول )
Mintalah dan berharaplah.( سَلْ وَتَمَنَّ )
Lelaki itu menjawab, ( ُفَيَقُول )
Aku tidak akan meminta dan berharap lagi, ( مَا أَسْأَلُ وَلا أَتَمَنَّى )
kecuali kumohon Engkau mengembalikan aku ke dunia, ( إِلا أَنْ تَرُدَّنِي إِلَى الدُّنْيَا )
lalu aku akan berperang hingga gugur di jalan-Mu, ( فَأُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ )
sebanyak sepuluh kali ( عَشْرَ مِرَار )
ia mengatakan demikian karena keutamaan yg dirasakannya -
berkat mati syahid. ( لِمَا يَرَى مِنْ فَضْلِ الشَّهَادَةِ )

SEBALIKNYA..,

Dan didatangkan pula seorang lelaki dari --
penduduk neraka, ( وَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ )
lalu dikatakan kepadanya, ( فَيَقُولُ لَهُ )
Hai anak Adam, ( يَا ابْنَ آدَمَ )
bagaimanakah kamu jumpai tempat tinggalmu? ( كَيْفَ وَجَدْتَ مَنزلَكَ؟ )
Ia menjawab, ( فَيَقُول )
Wahai Tuhanku ( يَا رَبِّ )
(aku jumpai tempat tinggalku adalah) --
seburuk-buruk tempat tinggal. ( شَرُّ مَنزلٍ)
Dikatakan kepadanya, ( فَيَقُولُ لَهُ )
Apakah engkau mau menebus dirimu dari (azab)-Nya --
dgn emas sepenuh bumi ?   (تَفْتَدِي مِني بِطِلاعِ الأرْضِ ذَهَبًا؟ )
Ia menjawab, ( فَيَقُولُ)
Ya, wahai Tuhanku. ( أَيْ رَبِّ، نَعَمْ )
Allah berfirman, ( فَيَقُولُ )
Kamu dusta, ( كَذَبْتَ )
karena sesungguhnya Aku pernah memintamu melakukan --
hal yang lebih ringan ( قَدْ سَأَلْتُكَ أَقَلَّ )
daripada itu dan lebih mudah, ( مِنْ ذَلِكَ وَأَيْسَرَ )
tetapi kamu tidak mau melakukannya. ( فَلَمْ تَفْعَلْ )
Lalu lelaki itu dicampakkan kembali ke dalam neraka. ( فيُرَد إِلَى النَّارِ )
(HR.Bukhari  dan Imam Muslim).

MasyaAllah begitu mahalnya hidayah Allah dan begitu besar ni'mat hidayah bahkan manusia terbaik didunia menyatakan tidak dapat memberikan hidayah taufik dan menerima kebenaran. Karena hidayah ini ada di tangan Allah dan Dia-lah yang berkuasa atas hal itu.

Wallahuta'allam

Bersambung..
http:// Abuafka.blogspot.com