Tidak bolehnya taqlik terhadap salahsatu madzab tertentu. ( Diantaranya dalam fikih shalat).
Imam Mazhab Mengimbau Umat Untuk Meninggalkan Pendapat yang Menyelisihi Sunnah
Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan at-Taymi lbh dikenal dg nama Abu Hanifah (dik oienal mazhab Hanafi)
(lahir di Kufah, Irak pd 80 H / 699 M — meninggal di Baghdad, Irak, 148 H / 767 M)
Beliau seorang Tabi'in karena berjumpa dg Anas bin Malik.
* Pertama
Beliau berkata, إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ
Jika suatu hadits itu
shahih,
itulah mazhabku. فَهُوَ مَذْهَبِيْ
(Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/63; Rasmul Mufti, 1/4; Majmu’ah Rasail Ibnu Abidin, 1/4)
Imam Abu Hanifah Berkata,
Tidak halal bagi seseorang mengikuti perkataan kami
لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا
bila ia tidak tahu dari mana kami mengambil sumbernya.
مَا لَمْ يُعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ
Dalam riwayat lain disebutkan,
Haram bagi org yg belum mengetahui argumetasi (dalil) saya berfatwa dg pendapat saya.
حَرَامٌ عَلَى مَنْ لَمْ يَعْرِفْ دَلِيْلِي أَنْ يُفْتِيَ بِكَلَامِيْ
(Al-Intiqa fi Fdhail ats-Tsalatsah al-Aimmah al-Fuqaha, Ibnu Abdil Barr, 145; I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/309; Hasyiyah al-Bahri ar-Raiq, Ibnu Abidin, 4/293; Rasmul Mufti, 29,32)
Imam Abu Hanifah berkata,
Kalau saya mengemukakan suatu pndapat yg brtentangan dg
al -Quran
إِذَا قُلْتُ قَوْلاً يُخَالِفُ كِتَابَ اللهِ تَعَالَى
& hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tinggalkanlah pendapatku itu.
وَخَبَرُ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فَاتْرُكُوْا قَوْلِي
(Al-Iqazh, Shalih Al-Fulani, 50)
**Kedua**
Imam Malik bin Anas bin Malik bin `Amr, al-Imam, Abu `Abd Allah al-Humyari al-Asbahi al-Madani), lahir di (Madinah pd tahun 714M / 93H & mninggal pd tahun 800M / 179H). Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadis, serta pendiri Mazhab Maliki.
Imam Malik bin Anas berkata,
Sy hanyalh sorg mnusia إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ
terkadang salah,. أُخْطِئُ
terkadang benar. وَأُصِيْبُ
Oleh karena itu, telitilah pendapatku فَاْنظُرُوا فِي رَأْيِي
Bila sesuai dg al-Quran & as-Sunnah فَكُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ
ambillah فَخُذُوْهُ
& bila tdk sesuai dg al-Quran & as-Sunnah,وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ
tinggalkanlah. فَاتْرُكُوْهُ
(Ushul Ahkam, Ibnu Abdil Barr, 6/419; Al-Iqazh, Shalih Al-Fulani, 72)
Imam Malik bin Anas berkata,
Tak seorangpun setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
لَيْسَ أَحَدٌ -بَعْدَ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
kec dpt diambil & ditinggalkan prkataanny ,إِلَّا وَيَؤْخُذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيَتْرُكُ
kec hanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. إِلَّا النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
(Irsyadus Salik, Ibnu Abdil Hadi, 1/227; Al-Jami’, Ibnu Abdil Barr, 2/91; Ushulul Ahkam, Ibnu Hazm, 6/145)
Ibnu Wahab berkata, “Aku pernah mendengar Malik menjawab pertanyaan orang tentang menyela-nyela jari kaki dalam wudhu. Beliau menjawab, ‘Itu bukan urusan manusia.’ Ibnu Wahab berkata, Lalu aku tinggalkan beliau sampai orang-orang yang mengelilinginya tinggal sedikit. Kemudian aku berkata kepadanya, ‘Kita mempunyai hadits tentang hal tersebut.’ Imam Malik bertanya, ‘Bagaimana hadits tersebut?’ Aku menjawab, ‘Laits bin Sa’ad, Ibnu Luhai’ah, Amr bin Harits, meriwayatkan kepada kami dan Yazid bin Amr al-Mu’airifi, dari Abi Abdirrahman al-Habali, dari Mustaurid bin Syadad al-Qurasyiyi, ujarnya, ‘Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggosokkan jari manisnya pada celah-celah jari kaki beliau.’ Malik menyahut, ‘Hadits ini hasan, saya tidak mendengar ini sama sekali, kecuali kali ini.’
Kemudian di lain waktu aku mendengar ia ditanya orang tentang hal yang sama, lalu beliau menyuruh orang itu menyela-nyela jari kakinya.” (Al-Jarh wa at-Ta’dil, Ibnu Abi Hatim, 31-32)
*** Ketiga
Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i al-Muththalibi al Qurasyi
(Lahir Ashkelon, Gaza, Palestina, 150 H/767 M. Wafat diFusthat Mesir, 204 H/819 M)
Imam Syafi'i jg trgolong krabat Rasulullah dr Bani Muththalib, yaitu keturunan dr al-Muththalib, saudara dr Hasyim, yg mrupakn kakek Nabi Muhammad.
Imam asy-Syafi’i berkata,
Setiap org harus bermazhab & mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
مَا مِنْ أحَدٍ إِلَّا وَتَذْهَبُ عَلَيْهِ سُنَّةً لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Apapun pendapat yg aku katakan
وَتَعْزُبُ عَنْهُ فَمَهْمَا قُلْتُ مِنْ قَوْلٍ
/ sesuatu yg aku katakan
itu أَوْ أَصَّلْتُ مِنْ أَصْلٍ
berasal dr Rasulullah
فِيْهِ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
tapi ternyata berlawanan dg pendapatku, خِلَافُ مَا قُلْتُ
apa yg disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
فَالْقَوْلُ مَا قَالَ رَسُولُ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
itulah yg mnjadi pndapatku.
وَهُوَ قَوْلِي
(HR. Hakim dg sanad yg brsambung kpd imam asy-Syafi’i, Tarikh Damsyiq, Ibnu Asakir, 15/1/3; I’lamul Muwaqqi’in, 2/363; Al-Iqadz, 100)
Imam Asy Syafi’i berkata,
Jika terdapat hadits yg shahih,
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ
maka lemparlah pendapatku ke dinding. فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ
Jika engkau melihat hujjah
وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ
diletakkan di atas jalan,
مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ
maka itulah pendapatku. فَهِيَ قَوْلِي
( Majmu’ Al Fatawa, 20: 211)
Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, Lalu bagaimana pendapatmu?
maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i.Beliau berkata kepadanya,
Langit mana yang akan menaungiku أَيُّ سَمَاءٍ تُظِلُّنِي
dan bumi mana yang akan
kupijak وَأَيُّ أَرْضٍ تُقِلُّنِي
kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam إِذَا رَوَيْتُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
kemudian aku berpendapat
lain…!? وَقُلْتُ بِغَيْرِهِ
( Hilyatul Auliya’, 9: 107.)
~ Seluruh kaum muslimin sepakat bhwa org yg secara jelas tlh mengetahui suatu hadits dr Rasulullah
أَجْمَعَ الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى أَنَّ مَنْ اِسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةً عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
tdk halal meninggalkannya guna mengikuti pendapat seseorang.
لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ
(Ibnul Qayyim, 2/361; Shalih al-Fulani, 68)
Bila kalian menemukan dlm kitabku إِذَا وَجَدْتُمْ فِيْ كِتَابِي
sesuatu yg berlainan dg hadits Rasulullah خَلَافُ سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
peganglah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu
فَقُوْلُوا بِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
& tinggalkanlah pendapatku.
وَدَعُوا مَا قُلْتُ
(Dzammul Kalam, Al-Haqi, 3/47/1; Al-Ihtijaj bi asy-Syafi’i, Al-Khatib, 8/2; Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 1/6)
Bila suatu hadits shahih,
maka itulah mazhabku.
إِذَا صَحَّ الْحَدِيْثُ؛ فَهُوَ مَذْهَبِي
(Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 1/63; Asy-Sya’rani, 1/57; Al-Fulani, 100)
Kalian lebih tahu tentang hadits
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِالْحَدِيْثِ
& para perawinya daripada aku.
وَالرِّجَالِ مِنِّي
Apabila suatu hadits itu shahih,
فَإِذَا كَانَ الْحَدِيْثُ الصَّحِيْحُ
beritahukanlah kpdku فَأَعْلِمُوْنِي بِهِ
biar di manapun orgny أَيْ شَيْءٌ يَكُوْنُ
apakah di Kuffah, Bashrah, Syam,
كُوْفِيّاً، أَوْ بَصْرِياً، أَوْ شَامِياً
sampai aku pergi menemuinya.
حَتَّى أَذْهَبُ إِلَيْهِ إِذَا كَانَ صَحِيْحاً
(Ucapan Imam asy-Syafi’i kpd Imam Ahmad bin Hanbal. Adabu asy-Syafi’i, 94-95; Al-Hilyah, Abu Nu’aim, 9/106; Al-Ihtijaj, Al-khatib, 8/1; Manaqib Imam Ahmad, 499)
Bila setiap persoalan ada hadits shahihnya كُلُّ مَسْأَلَةٍ صَحَّ فِيْهَا
dari Rasulullah الْخَبَرُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ
menurut kalangan ahli hadits
عِنْدَ أَهْلِ النَّقْلِ
tetapi pendapatku menyalahinya,
بِخِلَافِ مَا قُلْتُ
pasti aku akan mencabutnya,
فَأَنَا رَاجِعٌ عَنْهَا
baik selama aku hidup فِي حَيَاتِي
maupun stelah aku mati. وَبَعْدَ مَوْتِي
(Al-Hilyah, Abu Nu’aim, 9/107; Al-Harawi, 47/1; I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/363, Al-Iqadz, Shalih al-Fulani, 104)
Bila kalian mengetahui aku mengatakan suatu pendapat yg ternyata menyalahi hadits Nabi yg shahih,
إِذَا رَأَيْتُمُوْنِي أَقُوْلُ قَوْلاً، وَقَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلَافُهُ
ketahuilah bahwa itu berarti pendapatku tidak berguna.
فَاعْلَمُوا أَنَّ عَقْلِي قَدْ ذَهَبَ
(Adabu asy-Syafi’i, Ibnu Abi Hatim, 93; Al-Amali, Abul Qasim as-Samarqandi, 1/234; Al-Hilyah, Abu Nu’aim, 9/106)
Setiap perkataanku كُلُّ مَا قُلْتُ
bila berlainan dg riwayat yg shahih dr Nabi
فَكَانَ عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَخِلَافُ قَوْلِي مِمَّا يَصِحُّ
hadits nabi lebih utama
فَحَدِيْثُ النَّبِي أَوْلَى
& kalian jangan bertaklid kepadaku. فَلَا تُقَلِّدُوْنِي
(Ibnu Abi Hatim, 93; Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir, 15/9/2)
كُلُّ حَدِيْثٍ عَنْ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛
Setiap Hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
berarti itu pendapatku, فَهُوَ قَوْلِي
sekalipun kalian tdk mendengarnya sendiri dariku.
وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوْهُ مِنِّي
(Ibnu Abi Hatim, 93-94)
****Keempat
Mazhab Hanbali
Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris
Al Marwazi Al Baghdadi.
Lahir di Mary (saat ini (Turkmenistan
20 Rabiul awal 164 H / 27 November 780 M & wafat diBagdad, Irak 12 Rabiul Awal 241 H (4 Agustus 855)
Imam Ahmad berkata
Janganlah engkau taklid kepadaku لَا تُقَلِّدُنِي
atau kepada Malik, وَلَا تُقَلِّدْ مَالِكاً
asy-Syafi’i, Al-Auza’i وَلَا الشَافِعِي، وَلَا الْأَوْزَاعِي
dan ast-Tsauri, وَلَا الثَّوْرِي
ttapi ambillah dr sumber mreka mngambil. وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا
(Al-Fulani, 113; I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim, 2/302)
Jgnlah kamu taklid kpd siapapun dr mereka dlm urusan agamamu.
لَا تُقَلِّدْ دِيْنَكَ أَحَداً مِنْ هَؤُلَاءِ
Apa yg datang dari Nabi & para sahabatnya, مَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ
itulah hendaknya yang kamu ambil. فَخُذْ بِهِ
Adapun tntang tabi’in ثُمَّ التَّابِعِيْنَ بَعْدُ
stiap org blelh mmilihny (mnolak / mnerima). الرَّجُلُ فِيْهِ مُخَيَّرٌ
Yg disebut Ittiba’ اَلْاِتِّبَاعُ
yaitu mengikuti apa yg datang dr Nabi
أَنْ يَتْبَعَ الرَّجُلُ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
& para sahabatny وَعَنْ أَصْحَابِهِ
sedangkan yg datang dr Tabi’in blh dipilih. ثُمَّ هُوَ مَنْ بَعْدَ التَّابِعِيْنَ مُخَيَّرٌ
(Masa’il Imam Ahmad, 276-277)
Pendapat Al-Auza’i, رَأْيُ الأَوْزَاعِي
Malik, dan Abu Hanifah adalah ra’yu.
Bagi saya, semua ra’yu sama saja,
وَهُوَ عِنْدِي سَوَاءٌ
tetapi yg menjadi hujjah Din adalah yg ada pada atsar (hadits).
وَإِنَّمَا الْحُجَّةُ فِي الْآثَارِ
(Al-Jami’, Ibnu Abdil Barr, 2/149)
Barangsiapa menolak hadits Rasulullah
مَنْ رَدَّ حَدِيْثَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
maka ia sedang berada di tepi kehancuran. فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ
(Ibnul Jauzi, 182)
Selain pernyataan para imam mazhab yang empat di atas, ada banyak sekali imbauan dan nasehat dari para Ulama murid-murid mereka hingga era kontemporer untuk menjauhi taklid buta dan untuk tidak menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun para tolib & org awam agar mempelajari Madzhab sebagaimana
Imam Asy-Syatibi berkata
Fatwa2 ulama mujtahidin bagi org awam itu ibarat dalil syar’i bagi para mujtahid.
(Ibrahim bin Musa as-Syathibi
Wafat 790 H, al-Muwafaqat, h. 5/ 336).
Kemudian bliau melanjutkan,
Dsarny adlh ada dan tdkny dalil bagi orang awam itu sebenarnya sama saja. Karena mereka belum bisa mengambil faedah dari dalil2 itu. Menganalisis dalil2 syar’i bukanlah tugas mereka. Bahkan tidak boleh sama sekali mereka melakukan itu.(Ibrahim bin Musa as-Syathibi w. 790 H, al-Muwafaqat, h. 5/ 337)
Namun sudah sepatutnya Tolib wajib berpatokan dengan dalil yg difahami oleh generasi terbaik itulah perkataan terbaik. Sebagaimana Allah Ta'alla Berfirman
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS. Az Zumar: 18).
Kita sepakati bersama bahwa Al Qur’an dan As Sunnah adalah sebaik-baik perkataan dibanding perkataan si fulan.
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al Hasyr: 7).
Wallahu'allam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar