Kamis, 26 April 2018

ﺃﻫﻼً ﻭَﺳﻬﻼً ﻳﺎ ﺳﺎﻫﺮﻭ ﺷﻌﺒﺎﻥ ( ke 2 )

Kajian Ke 2

Lanjutan kajian

Semalam telah kita singgung bahwa ada hadits yang membicarakan begitu cepatnya waktu berlalu, Rasullaah ﷺ bersabda
Tidak akan tiba hari Kiamat ( ﻻَ ﺗَﻘُﻮﻡُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ )
hingga zaman berdekatan ( ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘَﻘَﺎﺭَﺏَ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥُ )
setahun bagaikan sebulan ( ﻓَﺘَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺴَّﻨَﺔُ ﻛَﺎﻟﺸَّﻬْﺮِ )
sebulan bagaikan sepekan ( ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺸَّﻬْﺮُ ﻛَﺎﻟْﺠُﻤُﻌَﺔِ )
sepekan bagaikan sehari ( ﻭَﺗَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔُ ﻛَﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ )
sehari bagaikan sejam ( ﻭَﻳَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡُ ﻛَﺎﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ )
dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah
pohon kurma ( ﻭَﺗَﻜُﻮﻥَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻛَﺎﺣْﺘِﺮَﺍﻕِ ﺍﻟﺴَّﻌَﻔَﺔِ )
( HR Muslim )

Mayoritas manusia memiliki waktu yang sama( artinya sama dalam 1 harinya 24 jam ).

Pertanyaanya kenapa hasilnya berbeda???

Rasulullah ﷺ menggambarkan kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam mengarungi waktu yakni berpuasa dan melewati bulan Ramadhan:

Golongan pertama digambarkan oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:

Barang siapa yang berpuasa Ramadhan ( ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺭﻣﻀﺎﻥ )
dengan penuh keimanan ( ﺇﻳﻤﺎﻧﺎ )
dan mengharapkan pahala ( ﻭﺍﺣﺘﺴﺎﺑﺎ )
maka akan dosanya yg telah lalu akan
diampuni. ( ﻏﻔﺮ ﻟﻪ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ﻣﻦ ﺫﻧﺒﻪ )
(HR. Bukhari dan Muslim)

Golongan kedua digambarkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya:

Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik
lapar dan dahaga. ( ﺭُﺏَّ ﺻَﺎﺋِﻢٍ ﺣَﻈُّﻪُ ﻣِﻦْ ﺻِﻴَﺎﻣِﻪِ ﺍﻟﺠُﻮْﻉُ ﻭَﺍﻟﻌَﻄَﺶُ )
(HR. Ibnu Majah).

Kenapa ke dua golongan tersebut berbeda hasi akhirnya,
Yang pertama mendapatkan ampunan
Yang kedua tidk mendapatkan apa2.

Yang membedakan keduanya adalah niat dan kesungguhan dalam mengisi bulan ramadhan dengan metaatan.

Inilah sebab ana tulis untuk kita bermuhasabah bagaimana bila ke 2 bulan ini terakhir bagi kita?
Apa yang telah kita usahakan?

Karena mati itu pasti ,syurga itu pasti,neraka itu pasti.pembalasan itu pasti,yg belum pasti kapan dan dimana kita setelah mati.

Taqrib wa tagrib bagi kita supaya jadi tambih.

Allah Ta’ala berfirman:

Tiap-2 yg berjiwa akan merasakan mati ( ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ )
Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. ( ﻭَﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺗُﻮَﻓَّﻮْﻥَ ﺃُﺟُﻮﺭَﻛُﻢْ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ )
Barangsiapa dijauhkan dari neraka ( ﻓَﻤَﻦْ ﺯُﺣْﺰِﺡَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ )
dan dimasukkan ke dalam surga (  ﻭَﺃُﺩْﺧِﻞَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ )
maka sungguh ia telah beruntung ( ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ )

Kehidupan dunia itu ( ﻭَﻣَﺎ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ )
tidak lain hanyalah kesenangan yg
memperdayakan. ( ﺇِﻻَّ ﻣَﺘَﺎﻉُ ﺍﻟْﻐُﺮُﻭﺭِ )
( Qs Ali Imran:185).

Kita sadari maut merupakan ketetapan Allah.
SEANDAINYA ada seseorang yang selamat dari maut, niscaya manusia yang paling mulia pun akan selamat
( Para Anbiya') .

Namun maut merupakan Sunnah ketetapanNya atas seluruh makhluk.

Karena ....

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad ﷺ )
akan mati ( ﺇِﻧَّﻚَ ﻣَﻴِّﺖٌ )
dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). (ﻭَﺇِﻧَّﻬُﻢ ﻣَّﻴِّﺘُﻮﻥَ)
(Qs Az Zumar:30).

Andai Bulan Mulia ini terakhir kita maka lihatlah tidak ada manusia yang kekal di dunia ini saudaraku.

Kami tdk menjadikan hidup abadi bagi
seorang manusiapun sebelum kamu
(Muhammad) ( ﻭَﻣَﺎ ﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻟِﺒَﺸَﺮٍ ﻣِّﻦ ﻗَﺒْﻠِﻚَ ﺍﻟْﺨُﻠْﺪَ )

maka jikalau kamu mati ( ﺃَﻓَﺈِﻥْ ﻣِّﺖَّ )
apakah mereka akan kekal? ( ﻓَﻬُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ )

Tiap2 yg berjiwa akan merasakan mati. ( ﻛُﻞُّ ﻧَﻔْﺲٍ ﺫَﺁﺋِﻘَﺔُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ )
Kami akan menguji kamu dg keburukan  ( ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ )
dan kebaikan sebagai cobaan
(yg sebenar-2nya). ( ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً )
Dan hanya kpd Kamilah kamu dikembalikan.( ﻭَﺇِﻟَﻴْﻨَﺎ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ )
( Qs Al Anbiya:34-35 ).

Bersambung ditargib selanjutnya
Wallahu'alam.

###

ﺃﻫﻼً ﻭَﺳﻬﻼً ﻳﺎ ﺳﺎﻫﺮﻭ ﺷﻌﺒﺎﻥ

Selasa 1 Sya'ban 1439 H /
             17 April 2018.

ﺃﻫﻼً ﻭَﺳﻬﻼً ﻳﺎ ﺳﺎﻫﺮﻭ ﺷﻌﺒﺎﻥ

1. Disunnahkan untuk lebih sungguh-sungguh menghitung Bulan Sya’ban
Sudah seharusnya bagi kaum muslimin untuk membiasakan diri menghitung bulan Sya’ban dalam rangka mempersiapkan masuknya bulan Ramadhan karena hitungan hari dalam sebulan dari bulan-bulan hijriyyah adalah 29 atau 30 hari. Sebagaimana hadits

dari ‘Aisyah beliau berkata :
Bahwasanya Rasulullah? ( ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠﻪِ ).
bersungguh2 menghitung bulan
Sya’ban ( ﻳَﺘَﺤَﻔَّﻆُ ﻣِﻦْ ﻫِﻼَﻝِ ﺷَﻌْﺒَﺎﻥَ )
melebihi kesungguhannya di selain
Sya’ban. ( ﻣَﺎ ﻻَ ﻳَﺘَﺤَﻔَّﻆُ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِﻩِ )
Kemudian beliau shaum setelah melihat
hilal Ramadhan. ( ﺛُﻢَّ ﻳَﺼُﻮﻡُ ﻟِﺮُﺅْﻳَﺔِ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ )

(Shahih Sunan Abi Dawud hadits no. 2325, karya Asy-Syaikh Al Albani).

Bersambung

الترهيب من الفطر في رمضان

At-Targhib Wa at-Tarhib :

Targhib (anjuran, dorongan, motivasi, janji pahala, balasan, surga).

Dan Tarhib (ancaman, peringatan, pantangan, akibat buruk, dosa dan neraka).

Kalau kita kaitkan dg Ramadhan maka arti ;

Tarthib Ramadhan adalah menyambut (bulan suci)
Ramadhan .

Sedang targhib Ramadhan artinya mencintai ( bulan suci) Ramadhan .

Jika kata tarhib dengan ha tipis ﺗﺮﺣﻴﺐ : artinya menyambut dengan sukacita

Kata Tarhib dengan ha tebal ﺗﺮﻫﻴﺐ : artinya mengancam, menakut nakuti.

Wallahu 'alam

Kajian Pertama

Kajian Fikih Semalam Dengan Tema Lanjutan
ANDAI INI SYA‘BAN & RAMADHAN TERAKHIRKU

Nabi Muhammad ﷺ manusia termulia yg konssisten dalam menjaga kesehatan ,lihat olahraganya renang,memah ,berkuda,lari dengan ummul mukminin dan lihat pola makannya Nabi mengkomsumsi madu,habatasauda,zaitun beliau tidak memakan makanan yg menjijikan ( dob) tdk makanan siap saji, yg mengandung kimia , beliau sering berpuasa ,beliau membiasakan berhenti makan sebelum kenyang dll pola hidup sehat Nabi Muhammad Shallahu'alaihi Wasallam.Namun usia beliau hanya 62 tahun saja.

Bagaimana dengan keadaan kita saudaraku?
Akankah usia kita lebih panjang dan berkah dari Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam dengan pola hidup yang tidak sehat?

LIhatlah pola kesehatan kita yang tidak konsisten dalam olahraga dan makan.
Lihat pola makan kita hampir semua yang masuk kemulut adalah bersentuhan dengan zat kimia,rokok ,miras dll.

Mari kita Renungkan saudaraku.
Masih berapa lama lagi usia kita bila tolak ukurnya Nabi tercinta?
Bagaimana bila sya‘ban dan ramadhan ini terakhir bagi kita?
Sudahkah cukup amal kita untuk melewati 1 harinya 50 ribu tahun dialam kubur?
Amal apa yang kita banggakan dihapan Allah Ta'ala besok?
Sudahkah kita persiapan untuk menyungsung hari esok ,
sebagaimana Allah berfirman

dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat) {وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ}
(Qs Al-Hasyr: 18)

Maksudnya hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dimintai pertanggung jawaban, dan perhatikanlah apa yang kamu tabung buat diri kalian berupa amal-amal saleh untuk bekal hari kalian dikembalikan, yaitu hari dihadapkan kalian kepada Robb kalian.

Bersambung nanti malam insya Allah

Rabu, 28 Maret 2018

Kekayaan Tidak Memberikan Kebahagian.

Kekayaan Tidak Memberikan Kebahagian.
Yang Bisa Memberikan Kebahagian adalah :

Barangsiapa yg mengerjakan amal saleh ( ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﺻَٰﻠِﺤًﺎ )
baik laki-laki maupun perempuan dalam
keadaan beriman ( ﻣِّﻦ ﺫَﻛَﺮٍ ﺃَﻭْ ﺃُﻧﺜَﻰٰ ﻭَﻫُﻮَ ﻣُﺆْﻣِﻦٌ )
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya
kehidupan yang baik ( ﻓَﻠَﻨُﺤْﻴِﻴَﻨَّﻪُۥ ﺣَﻴَﻮٰﺓً ﻃَﻴِّﺒَﺔً )
dan sesungguhnya akan Kami beri balasan
kepada mereka ( ﻭَﻟَﻨَﺠْﺰِﻳَﻨَّﻬُﻢْ )
dengan pahala yg lebih baik ( ﺃَﺟْﺮَﻫُﻢ ﺑِﺄَﺣْﺴَﻦِ )
dari apa yg telah mereka kerjakan. ( ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ۟ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥ َ)
( QS An-Nahl Ayat 97 )

Sedangkan harta adalah fitnah ;
Kami mengujimu dengan keburukan ( ﻭَﻧَﺒْﻠُﻮﻛُﻢ ﺑِﺎﻟﺸَّﺮِّ )
dan kebaikan sebagai cobaan. ( ﻭَﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻓِﺘْﻨَﺔً )
(QS. Al-Anbiyaa: 35)

Wallahuta'allam
Http:// Abuafka.blogspot.com

Senin, 26 Maret 2018

Bolehkah Refresing / Rehat Dalam Islam

Bolehkah Refresing / Rehat Dalam Islam

Allah Ta’ala berfirman
Atau siapakah yang telah menciptakan langit
dan bumi ( ﺃَﻡْ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﻭَﺍﺕِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽَ )
dan yang menurunkan air untukmu
dari langit ( ﻭَﺃَﻧْﺰَﻝَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻣَﺎﺀً )
lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun
yang berpemandangan indah ( ﻓَﺄَﻧْﺒَﺘْﻨَﺎ ﺑِﻪِ ﺣَﺪَﺍﺋِﻖَ ﺫَﺍﺕَ ﺑَﻬْﺠَﺔٍ )
(QS an Naml:60).

Syeikh Ibnu Utsaimin mengatakan, Ayat ini menunjukkan bolehnya jalan-jalan di taman dan mencari kesenangan dengannya karena Allah berfirman kebun-kebun yang berpemandangan indah. Seorang itu tidaklah dicela ketika mengatakan, Aku akan melihat-lihat kebun dan taman yang Allah ciptakan dari air hujan yang Dia turunkan. Kita tidak boleh mengatakan bahwa ini adalah kegiatan yang sia-sia. Jika kita tidak memberi kesempatan badan untuk refreshing maka akan ada kejemuan dengan rutinitas yang ada. Akhirnya, kita tidak bisa beraktivitas dengan baik. (Tafsir Surat an Naml ).

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda
Dari Hanzhalah berkata ( ﻋَﻦۡ ﺣَﻨۡﻈَﻠَﺔَ ﻗَﺎﻝَ )
Kami pernah berada di dekat Rasulullah ( ﻛُﻨَّﺎ ﻋِﻨۡﺪَ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﷺ)
Beliau memberi nasehat kepada kami ( ﻓَﻮَﻋَﻈَﻨَﺎ )
dan menyebutkan neraka. ( ﻓَﺬَﻛَّﺮَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ )
Hanzhalah berkata ( ﻗَﺎﻝَ )
Kemudian aku datang ke rumah ( ﺛُﻢَّ ﺟِﺌۡﺖُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟۡﺒَﻴۡﺖِ )
lalu aku tertawa bersama anak-anak ( ﻓَﻀَﺎﺣَﻜۡﺖُ ﺍﻟﺼِّﺒۡﻴَﺎﻥَ )
dan bercanda dengan istri ( ﻭَﻟَﺎﻋَﺒۡﺖُ ﺍﻟۡﻤَﺮۡﺃَﺓَ )
Hanzhalah berkata ( ﻗَﺎﻝَ )
Lalu aku keluar dan bertemu dengan
Abu Bakar ( ﻓَﺨَﺮَﺟۡﺖُ ﻓَﻠَﻘِﻴﺖُ ﺃَﺑَﺎ ﺑَﻜۡﺮٍ )
Aku menyebutkan hal itu kepadanya ( ﻓَﺬَﻛَﺮۡﺕُ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻪُ )
Abu Bakar menanggapi ( ﻓَﻘَﺎﻝَ )
Aku juga melakukan semisal yang
engkau sebutkan ( ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻗَﺪۡ ﻓَﻌَﻠۡﺖُ ﻣِﺜۡﻞَ ﻣَﺎ ﺗَﺬۡﻛُﺮُ )
Kami pun menemui Rasulullah ( ﻓَﻠَﻘِﻴﻨَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﷺ )
dan aku berkata Wahai Rasulullah ( ﻓَﻘُﻠۡﺖُ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ )
Hanzhalah telah berbuat nifak ( ﻧَﺎﻓَﻖَ ﺣَﻨۡﻈَﻠَﺔُ )
Beliau bersabda ( ﻓَﻘَﺎﻝَ )
Apa yang engkau katakan Aku pun bercerita
kepada beliau ( ﻣَﻪۡ ﻓَﺤَﺪَّﺛۡﺘُﻪُ ﺑِﺎﻟۡﺤَﺪِﻳﺚِ )
Abu Bakar mengatakan ( ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﺑَﻜۡﺮٍ )
Aku juga telah melakukan semisal yang
dia sebutkan ( ﻭَﺃَﻧَﺎ ﻗَﺪۡ ﻓَﻌَﻠۡﺖُ ﻣِﺜۡﻞَ ﻣَﺎ ﻓَﻌَﻞَ )
Nabi bersabda Wahai Hanzhalah ( ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺣَﻨۡﻈَﻠَﺔُ )
ada saatnya begini dan ada saatnya
begini ( ﺳَﺎﻋَﺔً ﻭَﺳَﺎﻋَﺔً )
Andai keadaan hati-hati kalian terus tetap seperti
ketika berzikir ( ﻭَﻟَﻮۡ ﻛَﺎﻧَﺖۡ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻗُﻠُﻮﺑُﻜُﻢۡ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻋِﻨۡﺪَ ﺍﻟﺬِّﻛۡﺮِ )
niscaya malaikat akan menjabat
tangan kalian ( ﻟَﺼَﺎﻓَﺤَﺘۡﻜُﻢُ ﺍﻟۡﻤَﻠَﺎﺋِﻜَﺔُ )
hingga memberi salam kepada kalian
di jalan-jalan. ( ﺣَﺘَّﻰٰ ﺗُﺴَﻠِّﻢَ ﻋَﻠَﻴۡﻜُﻢۡ ﻓِﻲ ﺍﻟﻄُّﺮُﻕِ )
( HR Muslim )

Makna hadits Ada saatnya begini dan ada
saatnya begini ( ﺳَﺎﻋَﺔً ﻭَﺳَﺎﻋَﺔً )

Imam An-Nawawi mengatakan Rehatkan jiwa kalian dari rutinitas ibadah, dengan melakukan hal yang dibolehkan, yang tidak ada dosa tapi juga tidak berpahala.

Sebagaimana sahabat Rasullah ﷺ Abu Darda’ (W. 32 H) menyatakan Sungguh, saya merefresh jiwa saya dengan melakukan sebagian senda-gurau atau permainan yang dibolehkan, agar saya kembali giat dalam melaksanakan kebaikan. ( Dalam kitab Faidhul Qadir, Syarh Al-Jami’ Ash-Shagir, Imam An-Nawawi (W. 676)

Wallahuta'allam.
Http:// Abuafka.blogspot.com

Jumat, 23 Maret 2018

Ketika Niqob/Cadar DiPertanyakan ( Fikih 4 Mazhab )

Ketika Cadar Dipertanyakan?
Fikih 4 Mazhab.

Apa dalilnya Bercadar?
◇ Dalilnya Allah Ta’ala berfirman :

Tidak ada dosa atas istri2 Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir)
dengan bapak2 mereka ( ﻻَّ ﺟُﻨَﺎﺡَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻦَّ ﻓِﻲ ﺀَﺍﺑَﺂﺋِﻬِﻦَّ )
anak-anak laki-laki mereka ( ﻭَﻵ ﺃَﺑْﻨَﺂﺋِﻬِﻦَّ )
saudara laki-laki mereka ( ﻭَﻵ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧِﻬِﻦَّ )
anak laki2 dari saudara laki2 mereka ( ﻭَﻵ ﺃَﺑْﻨَﺂﺀِ ﺇِﺧْﻮَﺍﻧِﻬِﻦَّ )
anak laki2 dari saudara mereka yang
perempuan ( ﻭَﻵ ﺃَﺑْﻨَﺂﺀِ ﺃَﺧَﻮَﺍﺗِﻬِﻦَّ )
perempuan-perempuan yg beriman ( ﻭَﻻَ ﻧِﺴَﺂﺋِﻬِﻦَّ )
dan hamba sahaya yg mereka miliki ( ﻭَﻻَ ﻣَﺎﻣَﻠَﻜَﺖْ ﺃَﻳْﻤَﺎﻧُﻬُﻦَّ )
dan bertakwalah kamu (hai istri-istri Nabi)
kepada Allah ( ﻭَﺍﺗَّﻘِﻴﻦَ ﺍﻟﻠﻪَ )
Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan
segala sesuatu ( ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺷَﻬِﻴﺪًﺍ )
(QS. Al Ahzab: 55)

Ibnu Katsir berkata,
Ketika Allah memerintahkan wanita-wanita berhijab dari laki-laki asing (bukan mahram), Dia menjelaskan bahwa (para wanita) tidak wajib berhijab dari karib kerabat ini.” Kewajiban wanita berhijab dari laki-laki asing adalah termasuk menutupi WAJAHNYA.

◇◇ Allah Ta’ala juga berfirman
Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan)
kepada mereka (istri2 Nabi) ( ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺘُﻤُﻮﻫُﻦَّ ﻣَﺘَﺎﻋًﺎ )
maka mintalah dari belakang tabir ( ﻓَﺴْﺌَﻠُﻮﻫُﻦَّ ﻣِﻦ ﻭَﺭَﺁﺀِ ﺣِﺠَﺎﺏٍ )
Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu
dan hati mereka. ( ﺫَﻟِﻜُﻢْ ﺃَﻃْﻬَﺮُ ﻟِﻘُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻭَﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻦّ )
(QS. Al Ahzab: 53)

Ayat ini jelas menunjukkan wanita wajib menutupi diri dari laki-laki, termasuk menutup wajah, yang hikmahnya adalah lebih menjaga kesucian hati wanita dan hati laki-laki. Sedangkan menjaga kesucian hati merupakan kebutuhan setiap manusia, yaitu tidak khusus bagi istri-istri Nabi ﷺ dan para sahabat saja, maka ayat ini umum, berlaku bagi para istri Nabi ﷺ dan semua wanita mukmin. Setelah turunnya ayat ini maka Nabi ﷺ menutupi istri-istri beliau, demikian para sahabat menutupi istri-istri mereka, dengan menutupi wajah, badan, dan perhiasan.

(Lihat Hirasah Al-Fadhilah , hal: 46-49, karya Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

◇◇◇ Dan Allah Ta’ala berfirman

Hai istri-istri Nabi ( ﻳَﺎﻧِﺴَﺂﺀَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ )
kamu sekalian tidaklah seperti wanita
yang lain ( ﻟَﺴْﺘُﻦَّ ﻛَﺄَﺣَﺪٍ ﻣِّﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺂﺀِ )
jika kamu bertakwa ( ﺇِﻥِ ﺍﺗَّﻘَﻴْﺘُﻦَّ )
Maka jgnlah kamu tunduk dlm berbicara ( ﻓَﻼَ ﺗَﺨْﻀَﻌْﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﻮْﻝِ )
sehingga berkeinginanlah orang yang ada
penyakit dalam hatinya ( ﻓَﻴَﻄْﻤَﻊَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ ﻣَﺮَﺽٌ )
dan ucapkanlah perkataan yg baik ( ﻭَﻗُﻠْﻦَ ﻗَﻮْﻻً ﻣَّﻌْﺮُﻭﻓًﺎ )
dan hendaklah kamu tetap di rumahmu ( ﻭَﻗَﺮْﻥَ ﻓِﻲ ﺑُﻴُﻮﺗِﻜُﻦَّ )
dan janganlah kamu berhias ( ﻭَﻻَﺗَﺒَﺮَّﺟْﻦَ )
dan bertingkah laku seperti orang2 Jahiliyah
yang dahulu ( ﺗَﺒَﺮُّﺝَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﺍْﻷُﻭْﻟَﻰ )
dan dirikanlah shalat ( ﻭَﺃَﻗِﻤْﻦَ ﺍﻟﺼَّﻼَﺓَ )
tunaikanlah zakat ( ﻭَﺀَﺍﺗِﻴﻦَ ﺍﻟﺰَّﻛَﺎﺓَ )
dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.( ﻭَﺃَﻃِﻌْﻦَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ )
Sesungguhnya Allah bermaksud ( ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻳُﺮِﻳﺪُ ﺍﻟﻠﻪُ )
hendak menghilangkan dosa dari kamu ( ﻟِﻴُﺬْﻫِﺐَ ﻋَﻨﻜُﻢُ ﺍﻟﺮِّﺟْﺲَ )
hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya. ( ﺃَﻫْﻞَ ﺍﻟْﺒَﻴْﺖِ ﻭَﻳُﻄَﻬِّﺮَﻛُﻢْ ﺗَﻄْﻬِﻴﺮًﺍ )
(QS. Al Ahzab: 32-33)

Ayat ini ditujukan kepada para istri Rasulullah ﷺ, tetapi hukumnya mencakup wanita mukmin, karena sebab hikmah ini, yaitu untuk menghilangkan dosa dan membersihkan jiwa sebersih-bersihnya, juga mengenai wanita mukmin. Dari kedua ayat ini didapatkan kewajiban hijab (termasuk menutup wajah) bagi wanita dari beberapa sisi.

◇◇◇◇ Diantara Dalil-dalil dari hadits

~ Nabi ﷺ bersabda :
Barang siapa menyeret pakaiannya dg
sombong ( ﻣَﻦْ ﺟَﺮَّ ﺛَﻮْﺑَﻪُ ﺧُﻴَﻠَﺎﺀَ )
Allah tidak akan melihatnya pada hari
kiamat. ( ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ )
Kemudian Ummu Salamah bertanya ( ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﺃُﻡُّ ﺳَﻠَﻤَﺔَ )
Bagaimana para wanita membuat ujung
pakaian mereka? ( ﻓَﻜَﻴْﻒَ ﻳَﺼْﻨَﻌْﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﺑِﺬُﻳُﻮﻟِﻬِﻦَّ )
Beliau menjawab ( ﻗَﺎﻝَ )
Hendaklah mereka menjulurkan sejengka. ( ﻳُﺮْﺧِﻴﻦَ ﺷِﺒْﺮًﺍ )
Ummu Salamah berkata lagi ( ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ )
Kalau begitu telapak kaki mereka akan
tersingkap? ( ﺇِﺫًﺍ ﺗَﻨْﻜَﺸِﻒُ ﺃَﻗْﺪَﺍﻣُﻬُﻦَّ )
Beliau menjawab ( ﻗَﺎﻝَ )
Hendaklah mereka menjulurkan sehasta, mereka tidak
boleh melebihkannya. ( ﻓَﻴُﺮْﺧِﻴﻨَﻪُ ﺫِﺭَﺍﻋًﺎ ﻟَﺎ ﻳَﺰِﺩْﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ )
(HR. Tirmidzi, dan lainnya)

Hadits ini menunjukkan kewajiban menutupi telapak kaki wanita, dan hal ini sudah dikenal di kalangan wanita sahabat. Sedangkan terbukanya telapak kaki wanita tidak lebih berbahaya dari pada terbukanya wajah dan tangan mereka, maka ini menunjukkan wajibnya menutupi wajah dan tangan wanita. ( Risalah Al Hijab, hal 17-18, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Darul Qasim).

~ ‘Aisyah berkata:
Mudah-2an Allah merahmati wanita2 Muhajirin yg pertama2,
ketika turun ayat ini ( ﻟَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔُ )
Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
ke dada (dan leher) mereka. ‏( ﻭَﻟْﻴَﻀْﺮِﺑْﻦَ ﺑِﺨُﻤُﺮِﻫِﻦَّ ﻋَﻠَﻰ ﺟُﻴُﻮﺑِﻬِﻦَّ )‏
(Al Ahzab/33 : 31)
mereka merobek selimut mereka ( ﺃَﺧَﺬْﻥَ ﺃُﺯْﺭَﻫُﻦَّ ﻓَﺸَﻘَّﻘْﻨَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻗِﺒَﻞِ ﺍﻟْﺤَﻮَﺍﺷِﻲ )
lalu mereka berkerudung dengannya. ( ﻓَﺎﺧْﺘَﻤَﺮْﻥَ ﺑِﻬَﺎ )
(HR. Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Jarir, dan lainnya)

Ibnu Hajar berkata (Fathul Bari 8/490): Perkataan: lalu mereka berkerudung dengannya maksudnya mereka menutupi wajah mereka. ( Lihat Hirasah Al-Fadhilah, hal 69, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, penerbit Darul ‘Ashimah).

~ Perkataan ‘Aisyah dalam peristiwa Haditsul Ifki:

Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah
melihatku ( ( ﻭَﻗَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﺻَﻔْﻮَﺍﻥُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻤُﻌَﻄَّﻞِ ﺍﻟﺴُّﻠَﻤِﻲُّ ﺛُﻢَّ ﺍﻟﺬَّﻛْﻮَﺍﻧِﻲُّ )
sebelum diwajibkan hijab atasku ( ﻳَﺮَﺍﻧِﻲ ﻗَﺒْﻞَ ﺃَﻥْ ﻳُﻀْﺮَﺏَ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺏُ ﻋَﻠَﻲَّ)
lalu aku terbangun karena perkataannya ( ﻓَﺎﺳْﺘَﻴْﻘَﻈْﺖُ )
Inna lillaahi… ( ﺑِﺎﺳْﺘِﺮْﺟَﺎﻋِﻪِ )
ketika dia mengenaliku. ( ﺣِﻴﻦَ ﻋَﺮَﻓَﻨِﻲ )
Maka aku menutupi wajahku dg jilbabku.(ﻓَﺨَﻤَّﺮْﺕُ ﻭَﺟْﻬِﻲ ﺑِﺠِﻠْﺒَﺎﺑِﻲ )
( HR. Muslim)

Inilah kebiasaan Ummahatul mukminin, yaitu menutupi wajah, maka hukumnya meliputi wanita mukmin secara umum sebagaimana dalam masalah hijab. ( Hirasah Al-Fadhilah, hal 72, Syaikh Bakar bin Abu Zaid, Darul ‘Ashimah )

◇◇◇◇◇ Bagaimana pendapat para ulama madzhab tentang niqob/ cadar ?

Diantara penjelasan-penjelasan dari para ulama madzhab.
▪ Pertama Madzhab Hanafi

Pendapat madzhab Hanafi, wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah.

~ Asy Syaranbalali berkata:

ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻥ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﻋﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﺑﺎﻃﻨﻬﻤﺎ ﻭﻇﺎﻫﺮﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺻﺢ ، ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺨﺘﺎﺭ

Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam serta telapak tangan luar, ini pendapat yang lebih shahih dan merupakan pilihan madzhab kami (Matan Nuurul Iidhah)

~ Al Imam Muhammad ‘Alaa-uddin berkata:

ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻥ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﻋﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ، ﻭﻗﺪﻣﻴﻬﺎ ﻓﻲ ﺭﻭﺍﻳﺔ ، ﻭﻛﺬﺍ ﺻﻮﺗﻬﺎ، ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻌﻮﺭﺓ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﺷﺒﻪ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺆﺩﻱ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ، ﻭﻟﺬﺍ ﺗﻤﻨﻊ ﻣﻦ ﻛﺸﻒ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻟﻠﻔﺘﻨﺔ

Seluruh badan wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan dalam. Dalam suatu riwayat, juga telapak tangan luar. Demikian juga suaranya. Namun bukan aurat jika dihadapan sesama wanita. Jika cenderung menimbulkan fitnah, dilarang menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki (Ad Durr Al Muntaqa , 81)

~ Al Allamah Al Hashkafi berkata:

ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻛﺎﻟﺮﺟﻞ ، ﻟﻜﻨﻬﺎ ﺗﻜﺸﻒ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻻ ﺭﺃﺳﻬﺎ ، ﻭﻟﻮ ﺳَﺪَﻟَﺖ ﺷﻴﺌًﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﻭَﺟَﺎﻓَﺘﻪُ ﺟﺎﺯ ، ﺑﻞ ﻳﻨﺪﺏ

Aurat wanita dalam shalat itu seperti aurat lelaki. Namun wajah wanita itu dibuka sedangkan kepalanya tidak. Andai seorang wanita memakai sesuatu di wajahnya atau menutupnya, boleh, bahkan dianjurkan (Ad Durr Al Mukhtar, 2/189)

~ Al Allamah Ibnu Abidin berkata:

ﺗُﻤﻨَﻊُ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻟﺨﻮﻑ ﺃﻥ ﻳﺮﻯ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻓﺘﻘﻊ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ، ﻷﻧﻪ ﻣﻊ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻗﺪ ﻳﻘﻊ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺑﺸﻬﻮﺓ

~ Terlarang bagi wanita menampakan wajahnya karena khawatir akan dilihat oleh para lelaki, kemudian timbullah fitnah. Karena jika wajah dinampakkan, terkadang lelaki melihatnya dengan syahwat (Hasyiah ‘Alad Durr Al Mukhtaar, 3/188-189)

~ Al Allamah Ibnu Najiim berkata:

ﻗﺎﻝ ﻣﺸﺎﻳﺨﻨﺎ : ﺗﻤﻨﻊ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺸﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﻛﺸﻒ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻓﻲ ﺯﻣﺎﻧﻨﺎ ﻟﻠﻔﺘﻨﺔ

Para ulama madzhab kami berkata bahwa terlarang bagi wanita muda untuk menampakkan wajahnya di hadapan para lelaki di zaman kita ini, karena dikhawatirkan menimbulkan fitnah.(Al Bahr Ar Raaiq , 284)

Beliau berkata demikian di zaman beliau, yaitu beliau wafat pada tahun 970 H, bagaimana dengan zaman kita sekarang?

▪▪ Kedua Madzhab Maliki

Mazhab Maliki berpendapat bahwa wajah wanita bukanlah aurat, namun memakai cadar hukumnya sunnah (dianjurkan) dan menjadi wajib jika dikhawatirkan menimbulkan fitnah. Bahkan sebagian ulama Maliki berpendapat seluruh tubuh wanita adalah aurat.

~ Az Zarqaani berkata:

ﻭﻋﻮﺭﺓ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﻣﻊ ﺭﺟﻞ ﺃﺟﻨﺒﻲ ﻣﺴﻠﻢ ﻏﻴﺮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻣﻦ ﺟﻤﻴﻊ ﺟﺴﺪﻫﺎ ، ﺣﺘﻰ ﺩﻻﻟﻴﻬﺎ ﻭﻗﺼَّﺘﻬﺎ . ﻭﺃﻣﺎ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﺎﻥ ﻇﺎﻫﺮﻫﻤﺎ ﻭﺑﺎﻃﻨﻬﻤﺎ ، ﻓﻠﻪ ﺭﺅﻳﺘﻬﻤﺎ ﻣﻜﺸﻮﻓﻴﻦ ﻭﻟﻮ ﺷﺎﺑﺔ ﺑﻼ ﻋﺬﺭ ﻣﻦ ﺷﻬﺎﺩﺓ ﺃﻭ ﻃﺐ ، ﺇﻻ ﻟﺨﻮﻑ ﻓﺘﻨﺔ ﺃﻭ ﻗﺼﺪ ﻟﺬﺓ ﻓﻴﺤﺮﻡ ، ﻛﻨﻈﺮ ﻷﻣﺮﺩ ، ﻛﻤﺎ ﻟﻠﻔﺎﻛﻬﺎﻧﻲ ﻭﺍﻟﻘﻠﺸﺎﻧﻲ

Aurat wanita di depan lelaki muslim ajnabi adalah seluruh tubuh selain wajah dan telapak tangan. Bahkan suara indahnya juga aurat. Sedangkan wajah, telapak tangan luar dan dalam, boleh dinampakkan dan dilihat oleh laki-laki walaupun wanita tersebut masih muda baik sekedar melihat ataupun untuk tujuan pengobatan. Kecuali jika khawatir timbul fitnah atau lelaki melihat wanita untuk berlezat-lezat, maka hukumnya haram, sebagaimana haramnya melihat amraad . Hal ini juga diungkapkan oleh Al Faakihaani dan Al Qalsyaani. (Syarh Mukhtashar Khalil , 176)

~ Ibnul Arabi berkata:

ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻛﻠﻬﺎ ﻋﻮﺭﺓ ، ﺑﺪﻧﻬﺎ ، ﻭﺻﻮﺗﻬﺎ ، ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﻛﺸﻒ ﺫﻟﻚ ﺇﻻ ﻟﻀﺮﻭﺭﺓ ، ﺃﻭ ﻟﺤﺎﺟﺔ ، ﻛﺎﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ ، ﺃﻭ ﺩﺍﺀ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﺒﺪﻧﻬﺎ ، ﺃﻭ ﺳﺆﺍﻟﻬﺎ ﻋﻤﺎ ﻳَﻌﻦُّ ﻭﻳﻌﺮﺽ ﻋﻨﺪﻫﺎ

Wanita itu seluruhnya adalah aurat. Baik badannya maupun suaranya. Tidak boleh menampakkan wajahnya kecuali darurat atau ada kebutuhan mendesak seperti persaksian atau pengobatan pada badannya, atau kita dipertanyakan apakah ia adalah orang yang dimaksud (dalam sebuah persoalan). (Ahkaamul Qur’an , 3/1579)

~ Al Qurthubi berkata:

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺧُﻮﻳﺰ ﻣﻨﺪﺍﺩ ــ ﻭﻫﻮ ﻣﻦ ﻛﺒﺎﺭ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﺍﻟﻤﺎﻟﻜﻴﺔ ـ : ﺇﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﺫﺍ ﻛﺎﻧﺖ ﺟﻤﻴﻠﺔ ﻭﺧﻴﻒ ﻣﻦ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ، ﻓﻌﻠﻴﻬﺎ ﺳﺘﺮ ﺫﻟﻚ ؛ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﻋﺠﻮﺯًﺍ ﺃﻭ ﻣﻘﺒﺤﺔ ﺟﺎﺯ ﺃﻥ ﺗﻜﺸﻒ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ

Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229)

~ Al Hathab berkata:

ﻭﺍﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺇﻥ ﺧُﺸﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ . ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ، ﻭﻧﻘﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺃﺣﻤﺪ ﺯﺭّﻭﻕ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺮﺳﺎﻟﺔ ، ﻭﻫﻮ ﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺘﻮﺿﻴﺢ

Ketahuilah, jika dikhawatirkan terjadi fitnah maka wanita wajib menutup wajah dan telapak tangannya. Ini dikatakan oleh Al Qadhi Abdul Wahhab, juga dinukil oleh Syaikh Ahmad Zarruq dalam Syarhur Risaalah. Dan inilah pendapat yang lebih tepat. (Mawahib Jaliil, 499)

~ Al Allamah Al Banaani, menjelaskan pendapat Az Zarqani di atas:

ﻭﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻻﺑﻦ ﻣﺮﺯﻭﻕ ﻓﻲ ﺍﻏﺘﻨﺎﻡ ﺍﻟﻔﺮﺻﺔ ﻗﺎﺋﻠًﺎ : ﺇﻧﻪ ﻣﺸﻬﻮﺭ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ، ﻭﻧﻘﻞ ﺍﻟﺤﻄﺎﺏ ﺃﻳﻀًﺎ ﺍﻟﻮﺟﻮﺏ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﺎﺿﻲ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻮﻫﺎﺏ ، ﺃﻭ ﻻ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺫﻟﻚ ، ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻏﺾ ﺑﺼﺮﻩ ، ﻭﻫﻮ ﻣﻘﺘﻀﻰ ﻧﻘﻞ ﻣَﻮَّﺍﻕ ﻋﻦ ﻋﻴﺎﺽ . ﻭﻓﺼَّﻞ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﺯﺭﻭﻕ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻮﻏﻠﻴﺴﻴﺔ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺠﻤﻴﻠﺔ ﻓﻴﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ، ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻓﻴُﺴﺘﺤﺐ

Pendapat tersebut juga dikatakan oleh Ibnu Marzuuq dalam kitab Ightimamul Furshah , ia berkata: ‘Inilah pendapat yang masyhur dalam madzhab Maliki’. Al Hathab juga menukil perkataan Al Qadhi Abdul Wahhab bahwa hukumnya wajib. Sebagian ulama Maliki menyebutkan pendapat bahwa hukumnya tidak wajib namun laki-laki wajib menundukkan pandangannya. Pendapat ini dinukil Mawwaq dari Iyadh. Syaikh Zarruq dalam kitab Syarhul Waghlisiyyah merinci, jika cantik maka wajib, jika tidak cantik maka sunnah.(Hasyiyah ‘Ala Syarh Az Zarqaani, 176)

▪▪▪ Ketiga Madzhab Syafi’i

Pendapat madzhab Syafi’i, aurat wanita di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) adalah seluruh tubuh. Sehingga mereka mewajibkan wanita memakai cadar di hadapan lelaki ajnabi. Inilah pendapat mu’tamad madzhab Syafi’i.

~ Asy Syarwani berkata:

ﺇﻥ ﻟﻬﺎ ﺛﻼﺙ ﻋﻮﺭﺍﺕ : ﻋﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﻭﻫﻮ ﻣﺎ ﺗﻘﺪﻡ ـ ﺃﻱ ﻛﻞ ﺑﺪﻧﻬﺎ ﻣﺎ ﺳﻮﻯ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ . ﻭﻋﻮﺭﺓ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﻟﻨﻈﺮ ﺍﻷﺟﺎﻧﺐ ﺇﻟﻴﻬﺎ : ﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻧﻬﺎ ﺣﺘﻰ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﻌﺘﻤﺪ ﻭﻋﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺨﻠﻮﺓ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ : ﻛﻌﻮﺭﺓ ﺍﻟﺮﺟﻞ ‏» ﺍﻫـ ـ ﺃﻱ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ ـ

Wanita memiliki tiga jenis aurat, (1) aurat dalam shalat -sebagaimana telah dijelaskan- yaitu seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan, (2) aurat terhadap pandangan lelaki ajnabi, yaitu seluruh tubuh termasuk wajah dan telapak tangan, menurut pendapat yang mu’tamad , (3) aurat ketika berdua bersama yang mahram, sama seperti laki-laki, yaitu antara pusar dan paha” (Hasyiah Asy Syarwani ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj , 2/112)

~ Syaikh Sulaiman Al Jamal berkata:

ﻏﻴﺮ ﻭﺟﻪ ﻭﻛﻔﻴﻦ : ﻭﻫﺬﻩ ﻋﻮﺭﺗﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ . ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻮﺭﺗﻬﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﺎﺕ ﻣﻄﻠﻘًﺎ ﻭﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺍﻟﻤﺤﺎﺭﻡ ، ﻓﻤﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﻭﺍﻟﺮﻛﺒﺔ . ﻭﺃﻣﺎ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺍﻷﺟﺎﻧﺐ ﻓﺠﻤﻴﻊ ﺍﻟﺒﺪﻥ

Maksud perkataan An Nawawi ‘aurat wanita adalah selain wajah dan telapak tangan’, ini adalah aurat di dalam shalat. Adapun aurat wanita muslimah secara mutlak di hadapan lelaki yang masih mahram adalah antara pusar hingga paha. Sedangkan di hadapan lelaki yang bukan mahram adalah seluruh badan.(Hasyiatul Jamal Ala’ Syarh Al Minhaj , 411)

~ Syaikh Muhammad bin Qaasim Al Ghazzi, penulis Fathul Qaarib , berkata:

ﻭﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻥ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﻋﻮﺭﺓ ﺇﻻ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻭﻛﻔﻴﻬﺎ ، ﻭﻫﺬﻩ ﻋﻮﺭﺗﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ ، ﺃﻣﺎ ﺧﺎﺭﺝ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻓﻌﻮﺭﺗﻬﺎ ﺟﻤﻴﻊ ﺑﺪﻧﻬﺎ

Seluruh badan wanita selain wajah dan telapak tangan adalah aurat. Ini aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, aurat wanita adalah seluruh badan. (Fathul Qaarib , 19)

~ Ibnu Qaasim Al Abadi berkata:

ﻓﻴﺠﺐ ﻣﺎ ﺳﺘﺮ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺜﻰ ﻭﻟﻮ ﺭﻗﻴﻘﺔ ﻣﺎ ﻋﺪﺍ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻭﺍﻟﻜﻔﻴﻦ . ﻭﻭﺟﻮﺏ ﺳﺘﺮﻫﻤﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻟﻴﺲ ﻟﻜﻮﻧﻬﻤﺎ ﻋﻮﺭﺓ ، ﺑﻞ ﻟﺨﻮﻑ ﺍﻟﻔﺘﻨﺔ ﻏﺎﻟﺒًﺎ

Wajib bagi wanita menutup seluruh tubuh selain wajah telapak tangan, walaupun penutupnya tipis. Dan wajib pula menutup wajah dan telapak tangan, bukan karena keduanya adalah aurat, namun karena secara umum keduanya cenderung menimbulkan fitnah.(Hasyiah Ibnu Qaasim ‘Ala Tuhfatul Muhtaaj , 3/115)

~ Taqiyuddin Al Hushni, penulis Kifaayatul Akhyaar , berkata:

ﻭﻳُﻜﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﻓﻲ ﺛﻮﺏ ﻓﻴﻪ ﺻﻮﺭﺓ ﻭﺗﻤﺜﻴﻞ ، ﻭﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻣﺘﻨﻘّﺒﺔ ﺇﻻ ﺃﻥ ﺗﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻭﻫﻨﺎﻙ ﺃﺟﺎﻧﺐ ﻻ ﻳﺤﺘﺮﺯﻭﻥ ﻋﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ، ﻓﺈﻥ ﺧﻴﻒ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻣﺎ ﻳﺠﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺴﺎﺩ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺭﻓﻊ ﺍﻟﻨﻘﺎﺏ

Makruh hukumnya shalat dengan memakai pakaian yang bergambar atau lukisan. Makruh pula wanita memakai niqab (cadar) ketika shalat. Kecuali jika di masjid kondisinya sulit terjaga dari pandnagan lelaki ajnabi. Jika wanita khawatir dipandang oleh lelaki ajnabi sehingga menimbulkan kerusakan, haram hukumnya melepaskan niqab (cadar).(Kifaayatul Akhyaar , 181)

▪▪▪▪ Empat Madzhab Hambali

~ Imam Ahmad bin Hambal berkata:

ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻣﻨﻬﺎ ــ ﺃﻱ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﺍﻟﺤﺮﺓ ــ ﻋﻮﺭﺓ ﺣﺘﻰ ﺍﻟﻈﻔﺮ

Setiap bagian tubuh wanita adalah aurat, termasuk pula kukunya. (Dinukil dalam Zaadul Masiir , 6/31)

~ Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz Al ‘Anqaari, penulis Raudhul Murbi’ , berkata:

« ﻭﻛﻞ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﺍﻟﺒﺎﻟﻐﺔ ﻋﻮﺭﺓ ﺣﺘﻰ ﺫﻭﺍﺋﺒﻬﺎ ، ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﺮﻋﺎﻳﺔ . ﺍﻫـ ﺇﻻ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﻓﻠﻴﺲ ﻋﻮﺭﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﺼﻼﺓ . ﻭﺃﻣﺎ ﺧﺎﺭﺟﻬﺎ ﻓﻜﻠﻬﺎ ﻋﻮﺭﺓ ﺣﺘﻰ ﻭﺟﻬﻬﺎ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻟﺨﻨﺜﻰ ﻭﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺜﻠﻬﺎ ﻋﻮﺭﺗﻬﺎ ﻣﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺴﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺮﻛﺒﺔ

Setiap bagian tubuh wanita yang baligh adalah aurat, termasuk pula sudut kepalanya. Pendapat ini telah dijelaskan dalam kitab Ar Ri’ayah … kecuali wajah, karena wajah bukanlah aurat di dalam shalat. Adapun di luar shalat, semua bagian tubuh adalah aurat, termasuk pula wajahnya jika di hadapan lelaki atau di hadapan banci. Jika di hadapan sesama wanita, auratnya antara pusar hingga paha. (Raudhul Murbi’ , 140)

~ Ibnu Muflih berkata:

« ﻗﺎﻝ ﺃﺣﻤﺪ : ﻭﻻ ﺗﺒﺪﻱ ﺯﻳﻨﺘﻬﺎ ﺇﻻ ﻟﻤﻦ ﻓﻲ ﺍﻵﻳﺔ ﻭﻧﻘﻞ ﺃﺑﻮ ﻃﺎﻟﺐ : ﻇﻔﺮﻫﺎ ﻋﻮﺭﺓ ، ﻓﺈﺫﺍ ﺧﺮﺟﺖ ﻓﻼ ﺗﺒﻴﻦ ﺷﻴﺌًﺎ ، ﻭﻻ ﺧُﻔَّﻬﺎ ، ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺼﻒ ﺍﻟﻘﺪﻡ ، ﻭﺃﺣﺐُّ ﺇﻟﻲَّ ﺃﻥ ﺗﺠﻌﻞ ﻟﻜـﻤّﻬﺎ ﺯﺭًﺍ ﻋﻨﺪ ﻳﺪﻫﺎ

Imam Ahmad berkata: ‘Maksud ayat tersebut adalah, janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada orang yang disebutkan di dalam ayat ‘. Abu Thalib menukil penjelasan dari beliau (Imam Ahmad): ‘Kuku wanita termasuk aurat. Jika mereka keluar, tidak boleh menampakkan apapun bahkan khuf (semacam kaus kaki), karena khuf itu masih menampakkan lekuk kaki. Dan aku lebih suka jika mereka membuat semacam kancing tekan di bagian tangan.(Al Furu’ , 601-602)

~ Syaikh Manshur bin Yunus bin Idris Al Bahuti, ketika menjelaskan matan Al Iqna’ , ia berkata:

« ﻭﻫﻤﺎ ‏» ﺃﻱ : ﺍﻟﻜﻔﺎﻥ . ‏« ﻭﺍﻟﻮﺟﻪ ‏» ﻣﻦ ﺍﻟﺤﺮﺓ ﺍﻟﺒﺎﻟﻐﺔ ‏« ﻋﻮﺭﺓ ﺧﺎﺭﺟﻬﺎ ‏» ﺃﻱ ﺍﻟﺼﻼﺓ ‏« ﺑﺎﻋﺘﺒﺎﺭ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﻛﺒﻘﻴﺔ ﺑﺪﻧﻬﺎ »

Keduanya, yaitu dua telapak tangan dan wajah adalah aurat di luar shalat karena adanya pandangan, sama seperti anggota badan lainnya.(Kasyful Qanaa’ , 309)

~ Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin berkata:

ﺍﻟﻘﻮﻝ ﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺴﺄﻟﺔ ﻭﺟﻮﺏ ﺳﺘﺮ ﺍﻟﻮﺟﻪ ﻋﻦ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﺍﻷﺟﺎﻧﺐ

Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah wajib hukumnya bagi wanita untuk menutup wajah dari pada lelaki ajnabi. (Fatawa Nurun ‘Alad Darb, http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_4913.shtml )

Wallahuta'allam
Http:// Abuafka.blogspot.com mengutip potongan artikel dari www.al-manhaj or.id dan www.muslim.or.id

Kamis, 22 Maret 2018

Amalan Penghapus Dosa

Amalan Penghapus Dosa

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu
Rasulullah ﷺ bersabda ,
Siapa yang mengucapkan ( ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ )
Maha suci Allah dan segala puji
bagi-Nya ( ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ )
sebanyak seratus kali ( ﻓِﻲ ﻳَﻮْﻡٍ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﻣَﺮَّﺓٍ )
maka dihapuskan segala kesalahan
(dosa)-Nya ( ﺣُﻄَّﺖْ ﺧَﻄَﺎﻳَﺎﻩُ )
walaupun sebanyak buih dilaut. ( ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻣِﺜْﻞَ ﺯَﺑَﺪِ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮِ)
(Muttafaq 'alaih)

Penjelasan Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam dalam Taudhih al-Ahkam menjelaskan tentang fadhilahnya, Maka barangsiapa yang menyucikan Allah (bertasbih) dan memuji-Nya (tahmid) sebanyak 100 kali pada pagi dan petang hari, niscaya mereka akan memperoleh pahala yang sangat besar; berupa diampuninya seluruh dosa dan kesalahannya meskipun jumlahnya amat banyak seperti buih di lautan. Hal ini adalah merupakan keutamaan yang mulia dan pemberian yang melimpah.

Beliau melanjutkan, Para ulama menyempitkan makna dari dosa-dosa yang akan diampuni dengan zikir ini, yaitu dosa-dosa kecil saja. Adapun dosa-dosa besar, tidak ada yang dapat menghapusnya kecuali taubat nasuha. Tetapi Imam al-Nawawi berkata: apabila seseorang tidak memiliki dosa-dosa kecil, maka diharapkan zikir tersebut dapat meringankan dosa-dosa besar yang telah ia lakukan.

Wallahu a’lam bishshowab